Akhlak Tercela - Hendrix Cat

    Social Items

Hendrix Cat

Metaltaila.co Adalah Blog Berbagi Template Premium


Menghindari perilaku riya’ takabbur, nifaq, fasiq, dan hasad


A. Riya

1.   Pengertian
Secara bahasa riya adalah dilihat. Sedangkan menurut istilah adalah seseorang bera- mal salih dengan maksud untuk dilihat atau dipuji orang lain. Pengertian riya menurut para ulama’ di antaranya:
  1. Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam FathulBari berkata: Riya’ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu.
  2. Imam Al-Ghazali mendefinisikan riya’ sebagai usaha mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.
  3. Habib Abdullah al-Haddad berpendapat bahwa riya’ adalah menuntut kedudukan atau meminta dihormati daripada orang lain dengan amalan yang ditujukan untuk akhirat.
2.Dalil naqli Riya’
Dalil tentang riya’ termaktub pada Al-Qur'an surat al-Anfal ayat 47 sebagai berikut ;

Artinya : Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampun- gnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta mengha- langi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (Q.S.al-Anfāl [8]:47)

Allah Swt menjelaskan tentang riya’ termaktub pada Qur’an:

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan mem-
balas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mere- ka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS. an-Nisa [4]:142)

3.   Macam-macam Riya’
Adapun macam-macam riya adalah sebagai berikut:
  • Seorang hamba dalam beribadah menginginkan selain Allah. Senang orang lain tahu/melihat apa yang diperbuatnya. Dia tidak menunjukkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah dan ini termasuk jenis nifaq.
  • Seorang hamba beribadah dengan tujuan dan keinginannya ikhlas karena Allah, ketika manusia melihat ibadahnya maka ia bertambah giat dalam beribadah serta membaguskan ibadahnya. Ini termasuk perbuatan syirik tersembunyi.
  • Seorang hamba beribadah awalnya ikhlas karena Allah dan sampai selesai keadaannya masih demikian. Pada akhir ibadahnya dipuji oleh manusia dan ia merasa bangga dengan pujian manusia tersebut serta ia mendapatkan apa yang diinginkannya (dunia, missal: dengan memperoleh kedudukan di masyarakat, dll).
  • Riya’ badaniyah yaitu perbuatan riya’ dengan menampakkan badan/jasadnya kurus karena banyaknya ibadah
  • Riya’ dari sisi penampilan atau model. Seperti orang yang berpenampilan compang-camping agar ia dilihat seperti orang yang berlaku/berbuat zuhud.
  • Riya’ pada ucapan, misal orang yang memberat-beratkan suaranya.


4.   Hikmah Terhindar Dari Riya. Di antara hikmah agar kita terhindar dari perbuatan riya’ adalah sebagai berikut:
  • Mengetahui jenis-jenis amalan yang diperuntukkan untuk dunia
  • Mengetahui  jenis-jenis riya’ serta faktor-faktor pendorong perbuatan riya’
  • Mengetahui keagungan Allah Swt.
  • Mengenal/mengetahui  apa  yang  telah Allah  persiapkan  untuk  akhir kehidupan.
  • Takut dari beramal untuk kepentingan dunia.

B.  Takabur


1.   Pengertian takabur
Secara bahasa takabur adalah membanggakan (mengherankan) diri dalam hati (ba- tin), sedangkan secara istilah takabur artinya menilai kelebihan pada dirinya tanpa me- lihat siapa yang memberikan kelebihan itu, sehingga memunculkan rasa sombong dan
merendahkan yang lainnya. Ia adalah penyakit hati yang hanya diketahui oleh Allah Swt. jika nampak atsar/pengaruhnya kepada lahiriah seseorang.
Seperti sombong dalam berjalan, merendahkan manusia, menolak kebenaran dsb. maka yang nampak ini disebut dengan kibr atau khuyala’ (kesombongan).
Adapun sebab munculnya kesombongan adalah karena adanya takabur di hati. Taka- bur adalah salah satu penyakit hati di samping hasad (dengki), kibr (sombong), riya’ dan mahabbatus tsana’ (mencintai sanjungan).


2.   Dalil naqli tentang ujub

Artinya : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman [31] : 18)

Maksud ayat tersebut adalah “orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” adalah orang-orang yang ujub terhadap dirinya dan membanggakan dirinya di hadapan orang lain. Bahkan sebagian ulama ada yang memasukkan ujub ke dalam bagian syirk yang dapat menghapuskan amalan.


3.   Macam-macam takabur
Adapun macam-macam takabur adalah sebagai berikut
  • Menimpa ilmu, misalnya seseorang merasa sudah banyak ilmunya sehingga tidak mau menambah lagi, atau membuatnya remeh orang lain.
  • Menimpa akal dan pendapat,
  • Menimpa  harta,  misalnya  seseorang  merasa  sudah  banyak  hartanya, akhirnya ia bersikap boros dan berlebihan.
  • Menimpa kekuatan, misalnya seseorang merasa paling kuat, seperti kaum ‘Aad, mereka  mengatakan,  “Siapakah  yang  lebih  kuat  daripada  kita?” Akhirnya Allah menimpakan kehinaan kepada mereka di dunia dan akhirat.
  • Menimpa  kemuliaan,  misalnya  karena  merasa  sebagai  orang  mulia, membuat dirinya malas bekerja dan enggan mengejar keutamaan.
4.   Sebab-Sebab takabur
Adapun sebab-sebab takabur sebagai berikut :
a.   Faktor lingkungan dan keturunan
b.   Sanjungan dan pujian yang berlebihan
c.   Bergaul dengan orang yang terkena penyakit takabur.
d.   Kufur nikmat dan lupa kepada allah Swt.
e.    Menangani suatu pekerjaan sebelum matang dalam menguasainya dan belum terbina dengan sempurna.
f.   Berbangga-bangga dengan nasab dan keturunan
g.   Berlebih-lebihan dalam memuliakan dan menghormati


5.   Contoh takabur (Kisah Qorun)
Allah Swt. memberikan kepada Qorun harta yang banyak di mana kunci- kuncin- ya sungguh berat sampai dipikul oleh sejumlah orang-orang yang kuat. Kaumnya telah mengingatkan Qarun agar jangan bersikap sombong karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong, namun nasehat itu dijawabnya dengan mengatakan, “Ses- ungguhnya aku diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”, yakni kalau bukan karena Allah ridha kepadaku dan Dia mengetahui kelebihan pada diriku, tentu aku tidak di- berikan harta. Qarun terkena penyakit ujub dan sombong. Suatu hari ia keluar kepada kaumnya dalam satu iring-iringan yang lengkap dengan para pengawalnya untuk mem- perlihatkan kemegahannya kepada kaumnya, maka Allah benamkan dia dan rumahnya ke dalam bumi akibat kesombongannya.


6.   Hikmah Menghindari Sifat Takabur
Adapun hikmah menghindari sifat takabur adalah sebagai berikut:
1.  Akan selalu tawadlu’
2.   Tidak jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
3.   Tidak terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan
4.  Tidak akan kena azab dan pembalasan cepat ataupun lambat.


Seorang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam hadis disebutkan:
“Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut ter- sisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah Swt. membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari)



C.  Nifaq


1.   Pengertian
Secara bahasa Nifaq, berasal dari kata nafaqa-yunafiqu-nifaqan wa munafaqan, yang diambil dari kata “an-nafiqa”, yaitu salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan
sejenis tikus) dari sarangannya, yang jika ia dicari dari lubang yang satu, maka ia akan keluar dari lubang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata “an-nafaqa” (nafaq) yaitu ‘lubang tempat bersembunyi’
Menurut syariat Islam, Nifaq adalah menampakkan keislaman dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena orang munafik memasuki syariat dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain.


2.   Dalil naqli
Q.S. An-Nisa’, [4]: 142

Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan mem- balas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mere- ka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Q.S. An-Nisa’ [4]: 142)

QS. at-Taubah [9]:75-76

Artinya : "Dan  di antara  mereka  ada  orang  yang  telah  berikrar  kepada Allah: “Se- sungguhnya  jika Allah  memberikan  sebahagian  karunia-Nya  kepada Kami, pastilah Kami akan bersedekah dan pastilah Kami Termasuk orang- orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia- Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)." (QS. at-Taubah [9]:75-76)

3.   Tanda-tanda orangan nifaq
Perbuatan fasiq secara umum lebih mudah untuk diketahui, karena dapat dinilai dari penampakkan aktivitas yang bertentangan dengan hukum-hukum Islam. Sedangkan se- cara khusus perbuatan Munafik sulit untuk diidentifikasi, karena ia merupakan perbuatan batin. Namun, didapat melihat tanda-tanda orang
  • Berdusta dan menipu kepada Allah (Q.S. An-Nisa’ [4]: 142 dan QS. at- Taubah : 75-76)
  • Suka Mengejek Agama Allah, Rasul-Nya, dan Al-Qur'an (kitab-kitab Allah) (lihat QS an-Nisa’ [4]: 142 dan QS at-Taubah [9]: 74)
  • Membenci Rasulullah Saw (lihat QS at-Taubah [9]: 74 dan HR. Muslim : “Tidaklah seseorang mencintaiku kecuali ia seorang Mukmin dan tidaklah seseorang membenciku kecuali ia seorang munafik”)
  • Tidak  percaya  dengan  janji Allah  dan  Rasul-Nya  (lihat  QS.  al-Ahzab [33]:12).
  • Beribadah bukan karena Allah tetapi untuk riya dan mendapat pujian (lihat
  • QS an-Nisa’[4]: 12).
  • Tidak mau melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan memberikan alasan- alasan bahkan kalau perlu mereka akan bersumpah (lihat QS. al- Ahzab [33]:13).
  • Menghalangi manusia untuk melaksanakan perintah Allah (lihat QS an- Nisa’ [4]: 61; al-Munafiqun [63]: 2).
  • Menyerukan kemungkaran dan melarang atau mencegah kemakrufan (lihat QS at- Taubah [9]: 65).
  • Merasa  senang  jika  berhasil  menyesatkan  orang  lain  dan  jika  dipuji  orang  atas perbuatan baik yang sebenarnya tidak mereka lakukan (lihat QS Ali ‘Imran [3]: 188).
  • Menjadikan orang-orang kafir sebagai kawan kepercayaan, mereka tidak segan-segan untuk mengorbankan umat dan menggadaikan kemuliaan umat untuk mendapatkan kemuliaan semu dari orang-orang kafir (lihat QS an-Nisa’[4]: 138-139)
  • Menurut hadis Nabi Muhammad Saw. tanda-tanda orang munafiq adalah ketika bicara dusta, ketika berjanji mengingkari dan ketika dipercaya berkhianat.



D.  Fasiq


1.   Pengertian
Menurut bahasa fasiq adalah   keluar dari sesuatu. Sedangkan secara istilah Fasiq adalah  orang  yang  keluar  dari  ketaatan  kepada Allah  dan  rasul-Nya. Demikian pula orang munafik dan orang kafir disebut orang fasiq. Karena dua orang ini telah keluar dari ketaatan kepada Allah.
2.   Dalil Naqli
Allah Swt, menjelaskan tentang fasiq termaktub pada QS. Al-Kahfi, 50;


Artinya : dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam. Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunan-nya sebagai pemimpin selain daripada- Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. Al-Kahfi [18], 50)

3.   Pembagian Fasiq ada dua di antaranya  sebagai berikut ;
  1. Orang  yang  mengerjakan  dosa  dengan  terang-terangan,  seperti  mabuk di jalanan atau pergi ke tempat pelacuran atau pergi ke tempat perjudian dengan terang-terangan.
  2. Orang yang mengerjakan dosa dengan sembunyi-sembunyi, tetapi diberitahukannya dengan bangga kepada beberapa orang teman-temannya, bahwa ia berbuat yang demikian, seperti sebagian orang yang meninggalkan shalat dan puasa, lalu diceritakannya kelakuannya itu kepada teman- temannya bahwa ia tidak shalat dan tidak puasa.


4.   Contoh Sifat-sifat orang fasiq di antaranya sebagai berikut:
  • Mereka yang selalu mengingkari perjanjian kepada Allah setelah perjanjian itu terjadi b.   Mereka  selalu  memutuskan  hubungan  padahal  hubungan  itu  supaya disambung hubungan  silaturahim  baik  dengan  keluarga  sanak  saudara dan orang sekitar, hubungan yang paling dekat dan yang wajib adalah silaturahim
  • Mereka yang melakukan perbuatan keji dan penghancuran dibumi Allah Mereka orang dzalim yang selalu merubah hukum Allah dalam Al-Qur'an sehingga Allah menjatuhkan siksaan yang dahsyat kepadanya.
  • Ada juga sifat orang fasiq ialah yang selalu menginkari ayat-ayat Allah yang telah gamblang di matanya
  • Ada juga sifat yang lain mereka yang menganggap hukum Allah itu salah dan suka memilah-milah hukum Allah yang mudah dikerjakan yang sulit dan tidak cocok dengannya ditinggalkan
  • Orang yang boros juga termasuk fasiq, kalau sudah ini yang terjadi maka Allah akan menghancurkannya,
  • Kaum Luth adalah contoh orang-orang fasiq

E.  Hasad


a.   Pengertian Hasad
Hasad adalah perasaaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah Swt, bahkan berusaha dengan berbagai cara agar orang yang mendapat nikmat dan kesenangan tersebut kembali seperti semula. Kepuasannya akan tercapai apabila orang lain tak ada yang melebihinya dalam segala hal.
Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa definisi hasad adalah merasa tidak
suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.


Orang yang terkena penyakit hasad, hatinya selalu panas jika melihat orang lain mendapat kenikmatan. Seperti sukses dalam pelajaran, kenaikan pangkat, mendapat keuntungan  yang  banyak  dalam  perdagangan,  dan  lain-lain  sebagainya.  Akibatnya ia membenci orang tersebut, bahkan tidak pula segan-segan untuk menjauhkan atau mencelakakan orang itu dan menghasut orang lain agar benci pula kepdanya. Jika usah- anya berhasil, tentu saja akan merusak pergaulan, sehingga ia lambat laun akan banyak musuhnya. Tetapi jika berhasil, selain rugi waktu, pikiran, tenaga dan sebagainya, ia akan merasa mendongkol, kesal dan marah. Dengan demikian akan merusak ketenangan dan ketentraman sendiri


b.   Dalil naqli tentang hasad
Allah Swt. berfirman,

Artinya ; Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada se- bahagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS.an-Nisa’[4]: 32)

c.   Contoh hasad
Contohnya seperti kasus berikut: si Ali sudah diangkat masyarakat menjadi guru/ imam tetap di salah satu masjid, kemudian datang si Badrun dengan segala cara berusaha menjatuhkan si Ali. Dan si Badrun sebenamya ingin menjadi guru/imam tetap menggan- tikan si Ali di masjid itu. Cara begini adalah berdosa di sisi Allah.
Tapi kalau si Badrun ingin menjadi guru/imam tetap di masjid yang lain, yang belum ada  imam/gurunya  atau  masih  membutuhkan,  itu  boleh  saja dan tidak salah. Tapi jangan dengan merebut jabatan orang lain yang sudah dikaruniakan oleh Allah Swt dan dipercayakan kepadanya.


d.   Hikmah Menghindari Sifat  Hasad
Adapun hikmah menghindari sifat hasad adalah sebagai berikut ;
1.   Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan.
2.   Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad.
3.   Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna.
4.   Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah.
5.   Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada.
6.   Hasad adalah akhlak tercela.


F.   Perilaku Orang Yang Memiliki Sifat Tercela

Dengan memahami ajaran islam sifat-sifat tercela, maka seharusnya kita memiliki sikap sebagai berikut :
1.   Berusaha untuk menghindari pengaruh sifat-sifat tercela tersebut
2.   Berusaha untuk meningkatkan kadar iman kita sehingga tidak mudah terpengaruh
3.   Mengajak teman dan saudara untuk bersama-sama menghindari pengaruh yang lebih dari sifat-sifat tercela tersebut.


Akhlak Tercela


Menghindari perilaku riya’ takabbur, nifaq, fasiq, dan hasad


A. Riya

1.   Pengertian
Secara bahasa riya adalah dilihat. Sedangkan menurut istilah adalah seseorang bera- mal salih dengan maksud untuk dilihat atau dipuji orang lain. Pengertian riya menurut para ulama’ di antaranya:
  1. Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam FathulBari berkata: Riya’ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu.
  2. Imam Al-Ghazali mendefinisikan riya’ sebagai usaha mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.
  3. Habib Abdullah al-Haddad berpendapat bahwa riya’ adalah menuntut kedudukan atau meminta dihormati daripada orang lain dengan amalan yang ditujukan untuk akhirat.
2.Dalil naqli Riya’
Dalil tentang riya’ termaktub pada Al-Qur'an surat al-Anfal ayat 47 sebagai berikut ;

Artinya : Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampun- gnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta mengha- langi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (Q.S.al-Anfāl [8]:47)

Allah Swt menjelaskan tentang riya’ termaktub pada Qur’an:

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan mem-
balas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mere- ka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS. an-Nisa [4]:142)

3.   Macam-macam Riya’
Adapun macam-macam riya adalah sebagai berikut:
  • Seorang hamba dalam beribadah menginginkan selain Allah. Senang orang lain tahu/melihat apa yang diperbuatnya. Dia tidak menunjukkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah dan ini termasuk jenis nifaq.
  • Seorang hamba beribadah dengan tujuan dan keinginannya ikhlas karena Allah, ketika manusia melihat ibadahnya maka ia bertambah giat dalam beribadah serta membaguskan ibadahnya. Ini termasuk perbuatan syirik tersembunyi.
  • Seorang hamba beribadah awalnya ikhlas karena Allah dan sampai selesai keadaannya masih demikian. Pada akhir ibadahnya dipuji oleh manusia dan ia merasa bangga dengan pujian manusia tersebut serta ia mendapatkan apa yang diinginkannya (dunia, missal: dengan memperoleh kedudukan di masyarakat, dll).
  • Riya’ badaniyah yaitu perbuatan riya’ dengan menampakkan badan/jasadnya kurus karena banyaknya ibadah
  • Riya’ dari sisi penampilan atau model. Seperti orang yang berpenampilan compang-camping agar ia dilihat seperti orang yang berlaku/berbuat zuhud.
  • Riya’ pada ucapan, misal orang yang memberat-beratkan suaranya.


4.   Hikmah Terhindar Dari Riya. Di antara hikmah agar kita terhindar dari perbuatan riya’ adalah sebagai berikut:
  • Mengetahui jenis-jenis amalan yang diperuntukkan untuk dunia
  • Mengetahui  jenis-jenis riya’ serta faktor-faktor pendorong perbuatan riya’
  • Mengetahui keagungan Allah Swt.
  • Mengenal/mengetahui  apa  yang  telah Allah  persiapkan  untuk  akhir kehidupan.
  • Takut dari beramal untuk kepentingan dunia.

B.  Takabur


1.   Pengertian takabur
Secara bahasa takabur adalah membanggakan (mengherankan) diri dalam hati (ba- tin), sedangkan secara istilah takabur artinya menilai kelebihan pada dirinya tanpa me- lihat siapa yang memberikan kelebihan itu, sehingga memunculkan rasa sombong dan
merendahkan yang lainnya. Ia adalah penyakit hati yang hanya diketahui oleh Allah Swt. jika nampak atsar/pengaruhnya kepada lahiriah seseorang.
Seperti sombong dalam berjalan, merendahkan manusia, menolak kebenaran dsb. maka yang nampak ini disebut dengan kibr atau khuyala’ (kesombongan).
Adapun sebab munculnya kesombongan adalah karena adanya takabur di hati. Taka- bur adalah salah satu penyakit hati di samping hasad (dengki), kibr (sombong), riya’ dan mahabbatus tsana’ (mencintai sanjungan).


2.   Dalil naqli tentang ujub

Artinya : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman [31] : 18)

Maksud ayat tersebut adalah “orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” adalah orang-orang yang ujub terhadap dirinya dan membanggakan dirinya di hadapan orang lain. Bahkan sebagian ulama ada yang memasukkan ujub ke dalam bagian syirk yang dapat menghapuskan amalan.


3.   Macam-macam takabur
Adapun macam-macam takabur adalah sebagai berikut
  • Menimpa ilmu, misalnya seseorang merasa sudah banyak ilmunya sehingga tidak mau menambah lagi, atau membuatnya remeh orang lain.
  • Menimpa akal dan pendapat,
  • Menimpa  harta,  misalnya  seseorang  merasa  sudah  banyak  hartanya, akhirnya ia bersikap boros dan berlebihan.
  • Menimpa kekuatan, misalnya seseorang merasa paling kuat, seperti kaum ‘Aad, mereka  mengatakan,  “Siapakah  yang  lebih  kuat  daripada  kita?” Akhirnya Allah menimpakan kehinaan kepada mereka di dunia dan akhirat.
  • Menimpa  kemuliaan,  misalnya  karena  merasa  sebagai  orang  mulia, membuat dirinya malas bekerja dan enggan mengejar keutamaan.
4.   Sebab-Sebab takabur
Adapun sebab-sebab takabur sebagai berikut :
a.   Faktor lingkungan dan keturunan
b.   Sanjungan dan pujian yang berlebihan
c.   Bergaul dengan orang yang terkena penyakit takabur.
d.   Kufur nikmat dan lupa kepada allah Swt.
e.    Menangani suatu pekerjaan sebelum matang dalam menguasainya dan belum terbina dengan sempurna.
f.   Berbangga-bangga dengan nasab dan keturunan
g.   Berlebih-lebihan dalam memuliakan dan menghormati


5.   Contoh takabur (Kisah Qorun)
Allah Swt. memberikan kepada Qorun harta yang banyak di mana kunci- kuncin- ya sungguh berat sampai dipikul oleh sejumlah orang-orang yang kuat. Kaumnya telah mengingatkan Qarun agar jangan bersikap sombong karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong, namun nasehat itu dijawabnya dengan mengatakan, “Ses- ungguhnya aku diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”, yakni kalau bukan karena Allah ridha kepadaku dan Dia mengetahui kelebihan pada diriku, tentu aku tidak di- berikan harta. Qarun terkena penyakit ujub dan sombong. Suatu hari ia keluar kepada kaumnya dalam satu iring-iringan yang lengkap dengan para pengawalnya untuk mem- perlihatkan kemegahannya kepada kaumnya, maka Allah benamkan dia dan rumahnya ke dalam bumi akibat kesombongannya.


6.   Hikmah Menghindari Sifat Takabur
Adapun hikmah menghindari sifat takabur adalah sebagai berikut:
1.  Akan selalu tawadlu’
2.   Tidak jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
3.   Tidak terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan
4.  Tidak akan kena azab dan pembalasan cepat ataupun lambat.


Seorang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam hadis disebutkan:
“Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut ter- sisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah Swt. membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari)



C.  Nifaq


1.   Pengertian
Secara bahasa Nifaq, berasal dari kata nafaqa-yunafiqu-nifaqan wa munafaqan, yang diambil dari kata “an-nafiqa”, yaitu salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan
sejenis tikus) dari sarangannya, yang jika ia dicari dari lubang yang satu, maka ia akan keluar dari lubang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata “an-nafaqa” (nafaq) yaitu ‘lubang tempat bersembunyi’
Menurut syariat Islam, Nifaq adalah menampakkan keislaman dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena orang munafik memasuki syariat dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain.


2.   Dalil naqli
Q.S. An-Nisa’, [4]: 142

Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan mem- balas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mere- ka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Q.S. An-Nisa’ [4]: 142)

QS. at-Taubah [9]:75-76

Artinya : "Dan  di antara  mereka  ada  orang  yang  telah  berikrar  kepada Allah: “Se- sungguhnya  jika Allah  memberikan  sebahagian  karunia-Nya  kepada Kami, pastilah Kami akan bersedekah dan pastilah Kami Termasuk orang- orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia- Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)." (QS. at-Taubah [9]:75-76)

3.   Tanda-tanda orangan nifaq
Perbuatan fasiq secara umum lebih mudah untuk diketahui, karena dapat dinilai dari penampakkan aktivitas yang bertentangan dengan hukum-hukum Islam. Sedangkan se- cara khusus perbuatan Munafik sulit untuk diidentifikasi, karena ia merupakan perbuatan batin. Namun, didapat melihat tanda-tanda orang
  • Berdusta dan menipu kepada Allah (Q.S. An-Nisa’ [4]: 142 dan QS. at- Taubah : 75-76)
  • Suka Mengejek Agama Allah, Rasul-Nya, dan Al-Qur'an (kitab-kitab Allah) (lihat QS an-Nisa’ [4]: 142 dan QS at-Taubah [9]: 74)
  • Membenci Rasulullah Saw (lihat QS at-Taubah [9]: 74 dan HR. Muslim : “Tidaklah seseorang mencintaiku kecuali ia seorang Mukmin dan tidaklah seseorang membenciku kecuali ia seorang munafik”)
  • Tidak  percaya  dengan  janji Allah  dan  Rasul-Nya  (lihat  QS.  al-Ahzab [33]:12).
  • Beribadah bukan karena Allah tetapi untuk riya dan mendapat pujian (lihat
  • QS an-Nisa’[4]: 12).
  • Tidak mau melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan memberikan alasan- alasan bahkan kalau perlu mereka akan bersumpah (lihat QS. al- Ahzab [33]:13).
  • Menghalangi manusia untuk melaksanakan perintah Allah (lihat QS an- Nisa’ [4]: 61; al-Munafiqun [63]: 2).
  • Menyerukan kemungkaran dan melarang atau mencegah kemakrufan (lihat QS at- Taubah [9]: 65).
  • Merasa  senang  jika  berhasil  menyesatkan  orang  lain  dan  jika  dipuji  orang  atas perbuatan baik yang sebenarnya tidak mereka lakukan (lihat QS Ali ‘Imran [3]: 188).
  • Menjadikan orang-orang kafir sebagai kawan kepercayaan, mereka tidak segan-segan untuk mengorbankan umat dan menggadaikan kemuliaan umat untuk mendapatkan kemuliaan semu dari orang-orang kafir (lihat QS an-Nisa’[4]: 138-139)
  • Menurut hadis Nabi Muhammad Saw. tanda-tanda orang munafiq adalah ketika bicara dusta, ketika berjanji mengingkari dan ketika dipercaya berkhianat.



D.  Fasiq


1.   Pengertian
Menurut bahasa fasiq adalah   keluar dari sesuatu. Sedangkan secara istilah Fasiq adalah  orang  yang  keluar  dari  ketaatan  kepada Allah  dan  rasul-Nya. Demikian pula orang munafik dan orang kafir disebut orang fasiq. Karena dua orang ini telah keluar dari ketaatan kepada Allah.
2.   Dalil Naqli
Allah Swt, menjelaskan tentang fasiq termaktub pada QS. Al-Kahfi, 50;


Artinya : dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam. Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunan-nya sebagai pemimpin selain daripada- Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. Al-Kahfi [18], 50)

3.   Pembagian Fasiq ada dua di antaranya  sebagai berikut ;
  1. Orang  yang  mengerjakan  dosa  dengan  terang-terangan,  seperti  mabuk di jalanan atau pergi ke tempat pelacuran atau pergi ke tempat perjudian dengan terang-terangan.
  2. Orang yang mengerjakan dosa dengan sembunyi-sembunyi, tetapi diberitahukannya dengan bangga kepada beberapa orang teman-temannya, bahwa ia berbuat yang demikian, seperti sebagian orang yang meninggalkan shalat dan puasa, lalu diceritakannya kelakuannya itu kepada teman- temannya bahwa ia tidak shalat dan tidak puasa.


4.   Contoh Sifat-sifat orang fasiq di antaranya sebagai berikut:
  • Mereka yang selalu mengingkari perjanjian kepada Allah setelah perjanjian itu terjadi b.   Mereka  selalu  memutuskan  hubungan  padahal  hubungan  itu  supaya disambung hubungan  silaturahim  baik  dengan  keluarga  sanak  saudara dan orang sekitar, hubungan yang paling dekat dan yang wajib adalah silaturahim
  • Mereka yang melakukan perbuatan keji dan penghancuran dibumi Allah Mereka orang dzalim yang selalu merubah hukum Allah dalam Al-Qur'an sehingga Allah menjatuhkan siksaan yang dahsyat kepadanya.
  • Ada juga sifat orang fasiq ialah yang selalu menginkari ayat-ayat Allah yang telah gamblang di matanya
  • Ada juga sifat yang lain mereka yang menganggap hukum Allah itu salah dan suka memilah-milah hukum Allah yang mudah dikerjakan yang sulit dan tidak cocok dengannya ditinggalkan
  • Orang yang boros juga termasuk fasiq, kalau sudah ini yang terjadi maka Allah akan menghancurkannya,
  • Kaum Luth adalah contoh orang-orang fasiq

E.  Hasad


a.   Pengertian Hasad
Hasad adalah perasaaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah Swt, bahkan berusaha dengan berbagai cara agar orang yang mendapat nikmat dan kesenangan tersebut kembali seperti semula. Kepuasannya akan tercapai apabila orang lain tak ada yang melebihinya dalam segala hal.
Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa definisi hasad adalah merasa tidak
suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.


Orang yang terkena penyakit hasad, hatinya selalu panas jika melihat orang lain mendapat kenikmatan. Seperti sukses dalam pelajaran, kenaikan pangkat, mendapat keuntungan  yang  banyak  dalam  perdagangan,  dan  lain-lain  sebagainya.  Akibatnya ia membenci orang tersebut, bahkan tidak pula segan-segan untuk menjauhkan atau mencelakakan orang itu dan menghasut orang lain agar benci pula kepdanya. Jika usah- anya berhasil, tentu saja akan merusak pergaulan, sehingga ia lambat laun akan banyak musuhnya. Tetapi jika berhasil, selain rugi waktu, pikiran, tenaga dan sebagainya, ia akan merasa mendongkol, kesal dan marah. Dengan demikian akan merusak ketenangan dan ketentraman sendiri


b.   Dalil naqli tentang hasad
Allah Swt. berfirman,

Artinya ; Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada se- bahagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS.an-Nisa’[4]: 32)

c.   Contoh hasad
Contohnya seperti kasus berikut: si Ali sudah diangkat masyarakat menjadi guru/ imam tetap di salah satu masjid, kemudian datang si Badrun dengan segala cara berusaha menjatuhkan si Ali. Dan si Badrun sebenamya ingin menjadi guru/imam tetap menggan- tikan si Ali di masjid itu. Cara begini adalah berdosa di sisi Allah.
Tapi kalau si Badrun ingin menjadi guru/imam tetap di masjid yang lain, yang belum ada  imam/gurunya  atau  masih  membutuhkan,  itu  boleh  saja dan tidak salah. Tapi jangan dengan merebut jabatan orang lain yang sudah dikaruniakan oleh Allah Swt dan dipercayakan kepadanya.


d.   Hikmah Menghindari Sifat  Hasad
Adapun hikmah menghindari sifat hasad adalah sebagai berikut ;
1.   Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan.
2.   Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad.
3.   Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna.
4.   Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah.
5.   Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada.
6.   Hasad adalah akhlak tercela.


F.   Perilaku Orang Yang Memiliki Sifat Tercela

Dengan memahami ajaran islam sifat-sifat tercela, maka seharusnya kita memiliki sikap sebagai berikut :
1.   Berusaha untuk menghindari pengaruh sifat-sifat tercela tersebut
2.   Berusaha untuk meningkatkan kadar iman kita sehingga tidak mudah terpengaruh
3.   Mengajak teman dan saudara untuk bersama-sama menghindari pengaruh yang lebih dari sifat-sifat tercela tersebut.


Load Comments

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo